Ulama dan Politik : Antara Habib Umar dan Mbah Yai Maimoen

Ulama dan Politik : Antara Habib Umar dan Mbah Yai Maimoen

Ulama dan Politik : Antara Habib Umar dan Mbah Yai Maimoen

Oleh: Muhammad Ismael Al Kholilie
(Pengasuh Ponpes Al-Muhajirun As-Salafi Al Kholilie, Geger, Bangkalan)

" Waktu itu Habib Umar sedang mengisi acara live di salah satu stasiun televisi Yaman. " Guruku, Syaikh Abdullah Bakhuraishah bercerita

" sampai pada sesi tanya jawab dari pemirsa, seorang wanita menelpon. bukannya bertanya, ia malah curhat kepada Habib Umar.

" Habib..saya khawatir dengan kemasyhuran yang anda miliki, anda akan terjun di dunia politik dan mencalonkan diri sebagai presiden " begitu kira-kira curhatan wanita itu.

Habib Umar tersenyum, beliau lantas menjelaskan prinsip dakwahnya bahwa ia tak akan pernah terjun di dunia politik, beliau lalu menuturkan kisah itu - kisah yang juga sering beliau ceritakan kepada kami - :

suatu hari salah seorang Gubernur Hadhramaut mendapatkan hidayah, ia lantas datang ke Inat untuk menemui Syaikh Abu Bakar Bin Salim.

" Habib, saya ingin bertobat dan melepaskan semua jabatan yang saya miliki, saya ingin menyerahkan jabatan ini kepada Habib atau anak-anak Habib.. " ujarnya.

Syaikh Abu Bakar tersenyum lalu berkata :

" seandainya jabatan itu bisa dipikul oleh binatang, maka aku tidak akan rela keledaiku menerima jabatan itu, maka lebih baik engkau serahkan jabatan itu kepada kerabat-kerabatmu yang kau nilai pantas untuk mengembannya.. "

Seperti itulah Habib Umar, selama 6 tahun lebih berguru kepada beliau, aku sama sekali tak pernah mendengar beliau berkomentar atau menyinggung masalah politik, bahkan sepatah katapun, Prinsip beliau - dan ulama-ulama Tarim lainnya adalah : menjauhi total dunia politik yang dinilai sebagai simbol duniawi, pertikaian dan perpecahan

Habib Umar pernah bercerita dulu pernah mendengar seorang tokoh agama berkhutbah memuja-muja seorang tokoh pimpinan partai politik, tapi seminggu kemudian ketika pemimpin itu lengser dari jabatannya, ia naik mimbar lagi tapi isi khutbahnya mengolok-ngolok dan mencaci maki tokoh yang sama yang ia puja-puja sebelumnya

السياسة خساسة
“ politik itu licik dan kotor “

Begitu kata-kata yang seringkali kami dengar disana

Habib Umar juga sering menceritakan kepada kami bagaimana ulama-ulama terdahulu selalu lari dan menolak keras ketika dipasrahi sebuah jabatan di pemerintahan, bahkan ada yang sampai berpura-pura gila demi menghindari jabatan itu. Inti ajaran yang dibawa oleh Habib Umar dan para ulama Tarim lainnya adalah : Manhaj Rahmah yang terfokus pada mengajar dan berdakwah, serta menghindari semua bentuk fitnah, konflik, pertikaian dan perpecahan. itu yang membuat mereka sangat menjauhi hal-hal yang berbau politik.

Lain Habib Umar, lain pula Mbah Yai Maimoen, Guru-ku selama 6 tahun di Sarang Rembang. beliau memiliki cara pandang berbeda terhadap politik. beliau menggunakan politik sebagai salah satu sarana dakwah dan memandang perlunya memasukkan nilai-nilai keislaman dan ke-santrian ke jantung pemerintahan. beliau bahkan pernah beberapa periode menjabat sebagai anggota MPR-RI, Gus Yasin putra Beliau saat ini menjabat sebagai Wakil Gubernur Jawa Tengah, Dawuh-dawuh beliau sampai saat ini selalu didengarkan dan ditunggu para politikus, nasehat dan arahannya juga sangat berpengaruh di kalangan orang-orang pemerintahan.

Al-Ulama Nujuum, Bi Ayyihim Ihtadaitum Iqtadaitum. Ulama itu bagaikan bintang-gemintang, terlepas dari warna-warni perbedaan prinsip dan pendapat mereka, semuanya bisa kita ikuti dan semua bisa kita jadikan panutan, terlepas dari seperti apapu cara dan ciri mereka, tujuan mereka tetap satu : Allah

Mbah Yai Maimun dan Habib Umar, keduanya merupakan guru saya yang saya saksikan dan rasakan sendiri keikhlasan dan ketulusannya.. Keduanya termasuk Al-Arifun Billah..Para kekasih Allah yang lelah, letih , dan jerih payah mereka hanya ditujukan untuk ummat, mengharapkan Ridha Allah, Lillah bukan karena yang lain. satu pelajaran yang bisa saya ambil dari keduanya adalah : bahwa mereka berdua tak pernah menyerang, menghujat atau menjelek-jelekkan -golongan ataupun individual lain- hanya gara-gara suatu perbedaan.

Tak ada yang keliru dari mereka dan tak ada yang salah dari perbedaan pendapat mereka, yang menjadi masalah adalah kita, yang masih minim jasa dan manfaat untuk ummat, atau mungkin gak berjasa sama sekali tapi dengan seenaknya berkomentar, mendikte dan menilai ulama kesana-kemari : “ Seharusnya ulama itu gini.. Seharusnya Kiai itu gak gitu. “ Tanpa menyadari bahwa kita telah Melewati batas dan melupakan bahwa kita tak mempunyai cukup kualitas bahkan jauh dari kata pantas

Mengapa harus heran dan kaget ? Bukankah sejak dahulu para ulama itu selalu bermacam-macam prinsip dan pendapatnya ? Ada yang seperti Ali Bin Husain Zainal Abidin dan Said Bin Musayyib yang selama hidupnya selalu menjauhi politik dan kekuasaan, ada juga Raja' Bin Haiwah seorang Alim Nan Wira'i yang Terjun ke dunia politik bahkan menjadi menteri dan penasehat utama pemerintahan Dinasti Umawi serta menjadi dalang utama dibalik naiknya Umar Bin Abdul Aziz menjadi Khalifah ? Semuanya adalah tokoh-tokoh agung Islam yang sampai sekarang biografinya masih tercatat dengan tinta emas dalam kitab-kitab sejarah yang kita baca.

Mereka adalah orang-orang yang sudah berjuang dan berbuat banyak..kita ? Apa yang sudah bisa kita berikan ??

Catatan lama menjelang pilpres 2019, ditulis di Makkah Al-Mukarromah tertanggal 23 September 2018





0 Response to "Ulama dan Politik : Antara Habib Umar dan Mbah Yai Maimoen"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel